Penting! Pertolongan Pertama Anak Muntah Terus

Muntah pada anak dapat disebabkan oleh berbagai macam hal. Penyebab yang paling umum adalah gastroenteriris atau disebut flu perut. Namun, muntah juga bisa disebabkan oleh hal lain. Muntah bisa membuat anak kehilangan cairan, mineral, dan garam. Jadi, penting bagi orang tua untuk memberikan pertolongan pertama anak muntah terus dengan baik.

Apa itu Muntah?

Sebelum mengetahui pertolongan pertama anak muntah terus, ada baiknya kamu mengetahui terlebuh dahulu definisi dari muntah itu sendiri. Muntah adalah salah satu kondisi kesehatan yang sangat umum dialami oleh anak-anak.

Muntah adalah salah satu alasan paling umum orang tua membawa anak mereka ke dokter, baik mereka sudah memberikan pertolongan pertama anak muntah terus ataupun belum. Apapun kondisinya, orang tua pasti khawatir terhadap kondisi anak yang muntah terus sehingga memutuskan untuk membawa sang anak ke dokter.

Muntah dapat disebabkan oleh berbagai faktor yang berbeda. Namun, seperti yang telah disebutkan sebelumnya, gastroenteritis adalah penyebab paling umum dari muntah pada anak-anak. Muntah dari gastroenteritis ini biasanya hilang dalam beberapa hari, tapi diare biasanya berlangsung lebih lama.

Bayi sering mengeluarkan sedikit makanan setelah makan. Kondisi ini biasa disebut sebagai refluks atau posesing. Hal tersebut terjadi tanpa usaha apapun. Hal ini tentu berbeda dengan muntah yang melibatkan kontraksi kuat dari perut untuk emngeluarkan isi perut.

Gejala

Pada umumnya, muntah pada anak sering terjadi dengan gejala lain, seperti diare. Oleh karena itu, selain memberikan pertolongan pertama anak muntah terus, kamu juga perlu memperhatikan gejala-gejala lain yang menyertai muntah tersebut. Hal ini bertujuan agar kamu bisa menjelaskan kondisi anak dengan detail kepada dokter.

Apabila kamu sudah memberikan pertolongan pertama anak muntah terus sekaligus memahami gejala-gejala yang ada, kamu bisa memberitahu dokter tentang gejala dan kondisi apapun yang dialami oleh anak. Hal ini akan membantu dokter untuk mendiagnosis sehingga bisa memberika pengobatan dan perawatan yang sesuai.

Beberapa gejala lain yang bisa terjadi bersamaan dengan muntah pada anak adalah adanya mual ataurasa sakit dan merasa akan muntah, merasa sakit perut, demam pada anak, diare, hingga sakit kepala. Selain itu, kamu mungkin juga melihat adanya gejala batuk atau masalah pernapasan lainnya pada anak.

Pertolongan Pertama Anak Muntah Terus

Apabila anak muntah terus, kamu bisa memberikan pertolongan pertama padanya. Berikut ini adalah beberapa hal yang mungkin bisa kamu lakukan untuk memberikan pertolongan pertama anak muntah terus.

Hal utama yang perlu kamu lakukan adalah hindari memberikan produk susu dan makanan padat pada anak yang muntah. Kemudian, kamu bisa memberikan sedikit cairan pada anak. Untuk bayi, sekitar 1 sdm (sendok makan) larutan elektrolit oral per 15-20 menit. Untuk anak-anak, 1-2 sdm per 15 menit oralit, soda lemon, kaldu bening, ataupun jus yang encer.

Jika anak muntah lagi, kamu perlu untuk menunggu 20-30 menit dan mulai lagi dari awal. Kamu bisa meningkatkan jumlah cairan yang dikonsumsi anak secara perlahan setelah tidak ada muntah selama 3-4 jam.

Setelah 8 jam tanpa muntah, bayi mulai bisa disusui seperti biasa. Sementara itu, untuk anak-anak, kamu bisa menyajikan makanan hambar (nasi, roti panggang, sereal) untuk dikonsumsi.Kemudian, anak bisa kembali ke rutinitas makan biasa setelah 24 jam tanpa muntah. Namun, apabila muntah lagi setelah diberi pertolongan pertama anak muntah terus, kamu perlu menghubungi dokter.

Sumber:

https://www.healthdirect.gov.au/vomiting-in-children

https://kidshealth.org/en/parents/vomiting-sheet.html

Cari Tahu Penyebab Kuning pada Bayi Baru Lahir

Kuning pada bayi baru lahir merupakan hal yang sering terjadi dan biasanya tidak berbahaya. Kuning pada bayi bisa terjadi saat di kandungan, beberapa jam setelah dilahirkan, dan 2-7 hari setelah kelahiran. 

Tanda khusus bayi mengalami penyakit ini bisa dilihat dari warna kulit dan bagian mata putih berwarna kekuningan. Ikterik neonatorum merupakan istilah medis untuk menyebut penyakit ini. 

Mengetahui Penyebab Kuning pada Bayi Baru Lahir 

Penyebab kuning pada bayi baru lahir adalah karena kadar bilirubin dalam darah tinggi. Bilirubin merupakan pigmen kuning yang terdapat dalam sel darah merah. 

Kondisi ini bisa terjadi karena hati bayi belum cukup matang untuk bisa menyaring bilirubin dalam darah. Penyakit kuning bisa hilang dengan sendirinya seiring bertambahnya usia dan asupan gizi yang mendorong perkembangan organ menjadi lebih sempurna. 

Dalam suatu studi, diperkirakan dari setiap 10 bayi baru lahir 6 diantaranya mengalami penyakit kuning. Risikonya menjadi lebih tinggi pada bayi lahir prematur dengan perbandingan 10:8.

Penyakit kuning yang terjadi pada kebanyakan bayi biasanya tidak memerlukan perawatan khusus dan akan hilang dengan sendirinya sekitar 2-3 minggu setelah lahir. 

Namun, pada beberapa kasus kuning pada bayi membutuhkan perawatan dan pengobatan khusus. Jika dibiarkan, bisa membawa masalah serius pada kesehatan, seperti terjadinya komplikasi dan  juga kerusakan otak permanen atau kernikterus. 

Selain belum sempurnanya fungsi hati untuk melakukan metabolisme tubuh, ada beberapa penyakit lain  yang mendasari terjadinya kuning pada bayi, di antaranya adalah sebagai berikut: 

  • Mengalami kelainan hati seperti terjadi kerusakan hati
  • Bayi mengalami infeksi saluran kandung kemih 
  • Kekurangan enzim tertentu atau disebut dengan defisiensi 
  • Kantung empedu tersumbat atau terjadi masalah pada saluran dan kantung empedu 
  • Terjadinya sepsis, yaitu infeksi pada darah bayi 
  • Terjadi pendarahan dalam tubuh 
  • Terjadi masalah pencernaan pada bayi 
  • Kelainan sel darah merah pada bayi yang menyebabkan sel darah merah cepat rusak 
  • Rhesus atau ketidakcocokan golongan darah antara bayi dengan ibu  
  • Bayi mengalami sindrom Crigler – Najjar 

Selain beberapa penyebab di atas, masih ada faktor lain bayi kuning, yaitu bayi lahir prematur <37 minggu, berat badan bayi kurang <2500 gram, pemberian ASI atau susu formula kurang, terjadi infeksi selama kehamilan akibat bakteri atau virus, dan metode induksi saat melahirkan. 

Gejala Penyakit Kuning pada Bayi Baru Lahir 

Gejala penyakit ini bisa dilihat dari warna kulit bayi yang berubah menjadi kekuningan. Perubahan warna mulai muncul dan dapat dilihat dari wajah kemudian menyebar ke area dada, perut, kaki, hingga telapak kaki. 

Bayi yang mengalami gejala parah akan terlihat lemas dan tidak mau menyusu. Selain gejala tersebut, masih ada beberapa gejala yang bisa menjadi indikasi parah atau tidaknya penyakit kuning pada bayi seperti berikut ini: 

  • Urine bayi berwarna kuning gelap 
  • Telapak tangan dan kaki serta bagian mata berwarna kuning 
  • Bayi lebih sering tidur hingga 16 jam sehari 
  • Bayi menolak ASI atau susu dan ketika minum hisapannya lambat 
  • Feses bayi berwarna pucat 

Jika terjadi gejala lain dan kondisi bayi kuning semakin buruk, kamu harus waspada karena penyakit ini bisa menimbulkan komplikasi penyakit lain, seperti ensefalopati akut dan kernicterus yang menyebabkan kerusakan sel otak permanen. 

Cara Mengatasi Kuning pada Bayi Baru Lahir 

Penyakit kuning ringan pada bayi bisa sembuh dengan sendirinya. Salah satu cara mengatasi kuning pada bayi baru lahir adalah dengan melakukan pemeriksaan khusus ke dokter spesialis anak atau rumah sakit. 

Hasil pemeriksaan akan menunjukkan langkah perawatan dan pengobatan yang tepat. Pada kasus penyakit kuning sedang hingga berat bisa menyebabkan kerusakan sel otak permanen dan pendengaran bayi. 

Cara mengatasi  kuning pada bayi baru lahir di rumah: 

  • Menjemur bayi di pagi hari. Waktu yang tepat menjemur bayi adalah jam 7 pagi di mana sinar matahari tidak terlalu panas. Buka baju bayi, lindungi bagian mata bayi dari sinar matahari atau posisikan bayi tengkurap. Jemur selama 10 – 15 menit setiap hari. 
  • Beri ASI sesering mungkin minimal bayi mendapat ASI sebanyak 8-12 kali sehari supaya bayi lebih sering buang air besar untuk mengeluarkan bilirubinnya. 
  • Jika bayi minum susu formula, berikan susu sebanyak 30-60 ml setiap 2-3 jam setiap hari. Hal ini dilakukan untuk mencegah kenaikan kadar bilirubin dalam darah. 

Ketika bayi mengalami gejala kuning, cek kondisinya secara berkala terutama pada bagian mata dan kulit. Jika kondisi kuning pada bayi baru lahir tidak membaik setelah 14 hari, segera periksakan ke dokter untuk mendapatkan penanganan terbaik.

Tujuan Pendidikan Seks Adalah Membantu Remaja, Kamu Setuju?

tujuan pendidikan seks untuk anak

Dulu, sex education dianggap tabu di Indonesia. Namun, seiring berjalannya waktu, orang tua menyadari tentang pentingnya pendidikan seks di usia dini. Mereka mengerti bahwa tujuan pendidikan seks adalah membantu dan membimbing anak mereka di saat pubertas. Berikut merupakan penjelasan lengkap mengenai pendidikan seks.

Definisi Pendidikan Seks

Pendidikan seks diartikan sebagai penyediaan atau penyebaran informasi mengenai perkembangan tubuh, seksualitas, hubungan, dan pengembangan keterampilan untuk membantu remaja berkomunikasi serta membuat keputusan yang tepat mengenai seks.

Mengingat betapa pentingnya pendidikan seks, maka perlu diterapkan di seluruh jenjang pendidikan, baik SD, SMP maupun SMA. Pastinya, berisikan informasi yang sesuai dengan perkembangan serta latar belakang budaya siswa.

Orang yang mengajarkan pendidikan seks harus sudah terlatih. Pendidikan seks yang disampaikan harus berisikan bukti kuat agar bisa mencegah kehamilan yang tidak diinginkan dan infeksi menular, tetapi tetap harus menghormati hak mereka untuk mendapatkan informasi yang lengkap dan jujur. 

Kenapa Pendidikan Seks Penting Bagi Remaja?

Pendidikan seks begitu penting bagi remaja karena tujuan pendidikan seks adalah membantu remaja agar bisa membuat pilihan yang benar dan agar mempunyai keterampilan guna melindungi diri mereka sendiri.

Dengan dukungan orang tua dan masyarakat, pendidikan seks bisa membantu remaja dalam menghindari konsekuensi kesehatan yang negatif. Contohnya, infeksi HIV atau PMS yang diakibatkan oleh seks bebas.

Remaja juga menjadi tahu dan belajar berkomunikasi tentang seksualitas. Bisa belajar mendiskusikan kontrasepsi dan kondom secara bebas, serta aktivitas yang belum siap mereka lakukan.

Pendidikan seks juga akan memberi tahu ciri pasangan yang sehat dan tidak sehat, sehingga mereka bisa menemukan cara efektif untuk mengkomunikasikan kebutuhan hubungan dan mengelola konflik, serta menghindari atau mengakhiri hubungan yang tidak sehat.

Hal lain yang bisa menunjukkan bahwa pendidikan seks penting adalah:

  • Melalui pendidikan seks, remaja bisa memahami, menghargai, dan merasakan otonomi atas tubuh mereka.
  • Bisa menghormati hak orang lain atas otonomi tubuh.
  • Bisa menunjukkan martabat dan rasa hormat kepada semua orang, tanpa memandang orientasi seksual atau identitas gender.
  • Bisa melindungi kesuksesan akademis mereka.

Apa Saja yang Diajarkan pada Pendidikan Seks?

Dalam pembelajarannya, pendidikan seks memberikan banyak informasi penting. Berikut daftar lengkap tentang apa saja yang akan disampaikan pada pendidikan seks:

  • Perkembangan manusia, mulai dari pubertas, anatomi tubuh, orientasi seksual, dan identitas gender.
  • Hubungan yang di dalamnya termasuk diri sendiri, keluarga, persahabatan, hubungan romantis, serta penyedia layanan kesehatan.
  • Keterampilan pribadi berupa komunikasi, penetapan batas, negosiasi, dan pengambilan keputusan.
  • Perilaku seksual.
  • Kesehatan seksual termasuk infeksi menular seksual, pengendalian kelahiran, kehamilan, serta aborsi.
  • Masyarakat dan budaya, termasuk literasi media, rasa malu, stigma, dan bagaimana kekuasaan, identitas, serta penindasan berdampak pada kesehatan seksual dan kebebasan reproduksi.

Kontra Pendidikan Seks

Meski banyak yang setuju dengan diadakannya sex education, banyak juga yang kontra terhadap pemberlakukan pendidikan seks. Kira-kira apa yang menyebabkan orang-orang kontra terhadap pendidikan seks? Berikut uraiannya:

  • Berpikir bahwa pendidikan seks berjalan terlalu jauh dan dianggap tabu.
  • Kurangnya tenaga pengajar yang terampil.
  • Bagi sebagian orang, bertentangan dengan keyakinan dan sentimen moral atau agama mereka sebagai individu.
  • Orang tua berpikir bahwa pendidikan seks bisa merusak moral siswa dan mendorong mereka melakukan aktivitas seksual karena rasa ingin tahu mereka.

Itulah pembahasan terkait sex education, meskipun tujuan pendidikan seks adalah untuk kebaikan anak muda, tetapi tetap saja banyak yang kontra tentang pendidikan seks ini. Sekarang kamu hanya perlu menilai dari sudut pandangmu, apakah kamu setuju dengan pendidikan seks atau tidak.

Kenali Ciri-Ciri Bayi Alergi Susu Sapi Berikut Ini!

Kamu pasti kerepotan jika bayi memiliki alergi susu sapi. Ini berarti kamu harus lebih selektif memilih susu yang tepat untuk bayi. Jika tidak, bahaya bisa mengintai kesehatan bayimu. 

Sebelum kamu memastikan apakah bayi mengalami alergi susu sapi, kamu perlu mengetahui ciri-ciri bayi alergi susu sapi. Oleh karena itu, simak penjelasan di bawah ini mengenai ciri-ciri bayi alergi susu sapi. 

Kondisi bayi alergi susu sapi

Alergi susu sapi merupakan salah satu penyakit yang banyak terjadi pada bayi. Diperkirakan sebanyak 7% bayi di bawah usia 1 tahun mengalami alergi susu sapi dan sangat jarang terjadi pada bayi usia di atas 1 tahun. Penyakit ini muncul sesaat setelah imun merespon secara tidak normal tepat setelah mengonsumsi susu sapi baik dicampur dengan susu formula maupun jenis makanan lainnya. 

Biasanya banyak yang mengira jika alergi susu sapi dengan intoleransi laktosa adalah hal yang sama. Padahal, kedua kondisi tersebut memiliki perbedaan.

Ciri-ciri bayi alergi susu sapi

Meskipun setiap bayi memiliki ciri-ciri alergi susu sapi berbeda-beda, ciri-ciri bayi alergi susu sapi mudah dikenali. Gejala alergi susu sapi bisa muncul sesaat setelah bayi mengonsumsi susu sapi. 

Reaksi ciri-ciri bayi alergi susu sapi dibagi menjadi dua jenis yaitu onset cepat (reaksi langsung), reaksi yang muncul beberapa menit setelah mengonsumsi susu. Serta juga jenis onset lambat (reaksi tertunda) yakni reaksi alergi timbul beberapa jam hingga berhari-hari. 

Nah, agar kamu lebih memahami bagaimana penanganan setiap jenis reaksi alergi, kamu perlu mengetahui ciri-ciri bayi alergi pada susu sapi. Yuk, simak penjelasan berikut ini.

  • Bayi mengalami nyeri perut, muntah, kolik, dan diare
  • Bayi mengalami ruam kemerahan pada kulit, gatal-gatal, dan bengkak wajah pada area mata dan bibir
  • Bayi mengalami hidung tersumbat dan pilek

Jika bayi menunjukkan gejala alergi yang cukup berat, kamu perlu berkonsultasi seera dengan dokter. Ciri-ciri tersebut meliputi:

  • Bayi mengalami pembengkakan pada area lidah, tenggorokan, dan mulut
  • Suara bayi menjadi serak
  • Pucat dan lemas
  • Bayi mengalami kesulitan bernafas disertai batuk

Penyebab bayi alergi susu sapi

Faktor utama terjadinya alergi susu sapi disebabkan adanya kelainan atau gangguan sistem kekebalan tubuh pada bayi. Gangguan tersebut memicu salah identifikasi protein pada susu sehingga menyebabkan bayi dalam bahaya. 

Imunoglobulin E yang dihasilkan oleh sistem kekebalan tubuh yang bertujuan untuk menetralisir zat pemicu alergi, melepaskan zat bernama histamin dalam peredaran darah sehingga menyebabkan gejala alergi. 

Bahaya alergi susu sapi

Jika alergi bayi tidak ditangani secara tepat, bahaya bisa jadi mengancam pertumbuhan bayi. Bahaya-bahaya tersebut mencakup:

  • Memicu alergi-alergi lainnya
  • Bayi mengalami penurunan berat badan
  • Bayi akan sering mengalami demam
  • Bayi mengalami pertumbuhan yang lambat
  • Alergi bisa mengancam nyawa bayi

Cara mengatasi bayi alergi susu sapi

Tentu saja sebagai orang tua kamu tidak ingin bayi mengalami bahaya-bahaya yang telah disebutkan di atas. Oleh karena itu, kamu harus mengetahui cara mengatasi bayi alergi susu sapi. Jenis makanan yang perlu dihindari bayi adalah makanan olahan susu seperti yoghurt, mentega, margarin, keju, dan es krim.

Selain itu, kamu juga bisa menggunakan obat-obatan untuk meringankan gejala alergi susu sapi pada bayi seperti obat  Adrenalin dan Antihistamin. 

Alternatif untuk bayi alergi susu sapi

Kamu juga bisa menerapkan solusi alternatif lainnya jika bayi mengalami gejala alergi susu sapi, seperti:

  • Berikan ASI eksklusif pada bayi
  • Gunakan susu kedelai
  • Gunakan susu yang mengandung formula hypoallergenic

Untuk lebih pasti dan aman, konsultasikan dengan dokter agar penanganan bayi yang mengalami alergi susu sapi lebih tepat. Nah, itu adalah penjelasan mengenai ciri-ciri bayi alergi susu sapi beserta penanganannya. Jangan lupa, konsultasikan pada dokter ya!